Powered By Blogger

Kamis, 28 Oktober 2010

HIDUP DAYAK...!!! HIDUP INDONESIA...!!!

Selamat Datang di Kota Cantik Palangka Raya para Peserta MUNAS III 28 – 31 Oktober 2010.
SUKSES
Adil Ka'Talino, Bacuramin Ka'Saruga, Basengat Ka'jubata..... Kuiiiiiiii

Jumat, 13 Agustus 2010

GERAKAN BERSATU DAN BERBUAT UNTUK MANGGATANG UTUS KALIMANTAN TENGAH (GB2-MU KALTENG)

Suku Dayak merupakan masyarakat yang terdahulu (indigenous peoples) ada dan hidup di Pulau Kalimantan sebelum penduduk lain berdatangan pada masa selanjutnya. Keperkasaan, kebijaksanaan, kelemahlembutan menjadi untaian pelangi dalam historis para Leluhur Suku Dayak di Kalimantan Tengah seperti Tambun Bungai, Nyai Undang, Damang Batu yang hidup sebelum Republik ini berdiri.
Tahun 1919, generasi muda Dayak yang telah mengenyam pendidikan formal, mengusahakan kemajuan bagi masyarakat sukunya dengan mendirikan Serikat Dayak dan Koperasi Dayak, yang dipelopori oleh Hausman Baboe, M. Lampe, Haji Abdulgani, Sian, Loei Kamis, Tamanggung Tundan dan masih banyak yang lainnya. Tahun 1928, kedua organisasi tersebut dilebur menjadi Pakat Dayak, yang bergerak dalam bidang sosial, ekonomi dan politik. Aktivitas dan perjuangan Pakat Dayak kemudian dilanjutkan oleh Mahir Mahar, C. Luran, H.Nyangkal, Oto Ibrahim, Philips Sinar, E.S. Handuran, Amir Hasan, Christian Nyunting, Tjilik Riwut, dan masih banyak lainnya. Generasi penerus dari Pakat Dayak inilah yang melanjutkan perjuangan, hingga bubarnya Otoritas Pemerintahan Belanda di Indonesia.
Sejak diproklamasikannya kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 1945, perjuangan para Pemuda Dayak tidak terhenti, melainkan terus menerus dikobarkan untuk mewujudkan “kemerdekaan yang sesungguhnya”. Berlandaskan satu hati dan satu tujuan untuk mewujudkan kemerdekaan yang sesungguhnya di Bumi Tambun Bungai, maka dengan menerapkan strategi gerakan “Bungai-Tambun” yang mana Tjilik Riwut dkk., berjuang melalui gerakan diplomasi di tingkat pemerintahan (atas=Bungai) dan Christian Simbar bersama Gerakan Mandau Talawang Pancasila (GMTPS) yang dipimpinnya melakukan perjuangan di lapisan akar rumput (bawah=Tambun). Kedua gerakan harmoni ini akhirnya berhasil mengantarkan Kalimantan Tengah menjadi sebuah Provinsi Otonom yang ditetapkan melalui Undang-Undang Darurat Nomor 10 Tahun 1957 tentang Pembentukan Daerah Swatantra Provinsi Kalimantan Tengah dan Perubahan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Swatantra Provinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur juncto Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1958 tentang penetapan Undang-Undang Darurat Nomor 10 Tahun 1957 tentang Pembentukan Daerah Swatantra Tingkat I Kalimantan Tengah.
Seperti digambarkan oleh Mina Nila Riwut; salah seorang putri Pahlawan Nasional Tjilik Riwut, dari semangat Pakat Dayak yang diteruskan pada era Tjilik Riwut dkk., Provinsi Kalimantan Tengah dengan luas dan sumber daya alam (SDA)-nya yang melimpah menuntut sumber daya manusia (SDM) yang baik dan profesional dalam pengelolaannya. Harus diakui bahwa kondisi SDM kita pada saat itu masih dinilai minimalis baik secara kuantitas maupun kualitas, karena belum berkembangnya dunia pendidikan. Berbeda halnya dengan masa sekarang, yang mana SDM kita sudah relatif banyak, baik dari segi jumlah maupun kualitasnya. Namun apabila tidak didasari dengan hati yang tulus serta semangat persatuan seperti yang diteladani para Pendahulu kita, maka SDM Utus Itah yang eksis saat ini belum tentu akan berfungsi secara optimal bahkan mungkin saja berpotensi menimbulkan konflik dan kekacauan.
Masa dan kepemimpinan daerah di provinsi ini terus datang dan pergi silih berganti. Bahkan sempat beberapa tahun lamanya setelah era Bapak W.A. Gara (Gubernur ke-3), kita dipimpin oleh para Gubernur dari suku lain. Apa yang kita rasakan pada masa itu? Bukan karena para Gubernur tersebut diskriminatif atau tidak menjalankan fungsinya, namun siapa lagi yang kita harapkan membangun dan menjaga Bumi Tambun Bungai (rumah kita) yang kita cintai ini kalau bukan kita diri sendiri, Utus Tambun Bungai?
Hal yang patut kita syukuri dan banggakan karena di era kepemimpinan sekarang, Gubernur Kalimantan Tengah, yaitu Bapak Agustin Teras Narang, SH., telah membuktikan bahwa Utus Dayak di Kalimantan Tengah mampu menjadi Tuan di Negerinya sendiri dan Nakhoda yang baik, mengantarkan “Banama Kalteng” ke “Pelabuhan Sejahtera dan Bermartabat”. Pada periode ke-2 (terakhir) bagi Beliau sebagai Gubernur Kalteng, dengan penuh kesadaran akan permasalahan yang dihadapi bersama oleh segenap Utus Dayak di Kalimantan Tengah, baik yang telah, sedang, dan akan terjadi di masa depan, maka dengan memohon berkat serta penyertaan Tuhan untuk meneruskan perjuangan dan cita-cita para Leluhur dan Pendahulu kami, kami bertekad dengan tulus ikhlas, menyatukan segala daya dan upaya yang ada pada setiap diri kami, sesuai dengan talenta serta melalui profesi kami masing-masing untuk memajukan segenap sisi kehidupan Utus Dayak di Kalimantan Tengah melalui suatu gerakan yang sinergis, strategis, terencana, komprehensif, partisipatif dan antisipatif, yaitu Gerakan Bersatu & Berbuat untuk Manggatang Utus (GB2-MU).

Jumat, 09 Juli 2010

MERDEKA!!!

SELAMAT MELANJUTKAN PERJUANGAN BUAT DWI TUNGGAL Pak TERAS & Pak DIRAN.
KAMI SENANTIASA SIAP MENDUKUNG, MENGISI & MENUNTASKAN PEMBANGUNAN YG MENJADI BAGIAN BAPAK BERDUA DAN KITA SEMUA DI PERIODE KE-2 INI.


GOD BLESS KALTENG

Sabtu, 29 Mei 2010

In Memoriam DR.SEHAT JAYA


In Memoriam
DR.SEHAT JAYA

Lahir di Tangkiling, 11 Juni 1963

Meninggal di Palangka Raya,

Sabtu 29 Mei 2010